12Mar

Bukan CV Terpanjang : Ini Hal Kecil yang Membuat Kandidat Diingat Rekruter

Sepanjang perjalanan saya di dunia rekrutmen, saya sudah melakukan ratusan wawancara dan bertemu banyak kandidat dengan latar belakang, pengalaman, dan cerita karier yang beragam. Menariknya, kandidat yang paling saya ingat bukan selalu yang memiliki CV paling panjang atau pengalaman paling banyak.

Justru yang berkesan adalah kandidat yang menunjukkan satu hal sederhana : cara mereka membawa diri selama proses interview.

Yang dimaksud dengan “cara membawa diri” bukan berarti harus tampil sempurna. Namun lebih kepada bagaimana seseorang berkomunikasi, bersikap dan merespons situasi selama proses wawancara kerja

 

Mengapa saya menulis ini ?

Saya sering melihat kandidat sebenarnya memiliki potensi yang baik, tetapi belum maksimal menampilkannya saat wawancara kerja

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi beberapa hal sederhana namun berdampak besar, supaya #RekanMitraKerja sebagai kandidat dapat tampil lebih percaya diri, lebih jelas dalam menceritakan pengalamannya dan punya peluang lebih besar untuk dipilih.

 

Hal-hal kecil yang meninggalkan Kesan bagi Rekruter

  1. Cara kamu menceritakan tentang dirimu

Tidak perlu menggunakan bahasa yang kaku atau istilah yang rumit. Yang terpenting adalah cerita yang jelas, runtut, dan jujur.

Coba ceritakan dengan sederhana seperti apa peranmu, apa yang kamu kerjakan dan apa hasil atau pembelajaran yang kamu dapat. Ini berlaku baik untuk pengalaman kerja, maupun pengalaman saat kamu masih sekolah atau kuliah.

Kandidat yang mampu menjelaskan pengalamannya dengan baik akan memberi kesan siap kerja dan matang secara profesional.

 

  1. Sikap ketika kamu belum mengetahui jawabannya
    Ini mungkin pernah kamu alami. Dan sebenarnya, tidak masalah jika kamu belum pernah menghadapi situasi yang ditanyakan rekruter. Yang penting adalah bagaimana kamu meresponsnya. Misalnya dengan menjawab seperti ini :

“Saya belum pernah menangani tanggung jawab tersebut sebelumnya, Namun jika diberi kesempatan saya akan belajar dengan cara …” Respons seperti ini menunjukkan bahwa kamu : jujur, memiliki kemauan belajar,  memiliki inisiatif. Hal-hal seperti ini dihargai di dunia kerja.

 

  1. Cara kamu menutup proses wawancara
    Banyak kandidat melewatkan bagian ini, padahal ini adalah kesan terakhir yang ditinggalkan. Kalimat sederhana seperti:

“Terima kasih atas waktunya. Saya tertarik dengan posisi ini dan berharap dapat berkontribusi.” akan membuat kamu terlihat lebih profesional dan menghargai proses yang sedang berjalan.

 

Tips singkat untuk kamu yang sedang mencari kerja

Sebelum interview, coba siapkan 3 hal ini:

✔ Latih cara kamu menceritakan pengalaman kerja secara runtut
✔ Siapkan contoh situasi yang pernah kamu hadapi (tantangan, konflik, pencapaian)
✔ Siapkan 1–2 pertanyaan untuk interviewer (misalnya tentang peran, tim, atau budaya kerja)

Hal – hal ini terlihat sederhana, tapi sering memberikan dampak yang cukup besar saat interview.

Dalam setiap proses rekrutmen, rekruter tidak hanya mencari orang yang menyelesaikan pekerjaan. Kami juga memperhatikan hal-hal seperti : Apakah mampu bekerja sama dengan tim, memiliki kemauan untuk belajar dan memiliki sikap yang baik dalam bekerja.

Karena pada akhirnya:
👉 skill dapat dipelajari dan dikembangkan
👉 tetapi sikap dan cara membawa diri akan selalu terlihat dalam keseharian kerja

Semoga kamu tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menemukan tempat yang tepat untuk bertumbuh 🌱

💬 Dari pengalaman #Rekanmitrakerja, bagian mana dari proses interview yang paling menantang?

 

(Artikel ini ditulis oleh Suryaningsih)

29Jan

Penerapan Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional adalah momentum penting di Indonesia yang diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Januari hingga 12 Februari. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan, baik perusahaan maupun tenaga kerja, terhadap pentingnya penerapan budaya keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja.

Penetapan Bulan K3 Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Melalui peringatan ini, diharapkan tercipta lingkungan kerja yang aman, sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Tujuan Peringatan Bulan K3 Nasional

Peringatan Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan memiliki beberapa tujuan strategis, antara lain:

  1. Menekan angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Penerapan praktik kerja yang aman terbukti mampu mengurangi risiko kecelakaan serta gangguan kesehatan pekerja.
  2. Mendorong kepatuhan terhadap regulasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Perusahaan diingatkan untuk menerapkan standar K3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  3. Meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Lingkungan kerja yang aman dan sehat berkontribusi langsung terhadap kinerja dan keberlangsungan usaha.
  4. Membentuk budaya kerja keselamatan. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus menjadi nilai bersama, bukan hanya aturan yang harus dipenuhi.

Data Kecelakaan Kerja di Indonesia

Mengutip sumber dan data Kementrian Ketenagakerjaan, jumlah kasus- kasus kecelakaan kerja di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 370.747 kasus, meningkat pada tahun 2024 menjadi 462.241 kasus. Sementara itu hingga April 2025 tercatat 47.300 kasus kecelakaan kerja.

Sebaran kasus kecelakaan kerja tersebut didominasi oleh beberapa sektor, antara lain:

  • 29% terjadi di sektor konstruksi
  • 26% di sektor manufaktur
  • 18% di sektor transportasi dan logistik
  • Sisanya di pertambangan, pertanian, dan sektor lainnya.

Jenis kecelakaan yang paling sering terjadi meliputi terjatuh dari ketinggian, tertimpa material atau alat berat, terpapar bahan berbahaya, kecelakaan lalu lintas saat perjalanan dinas serta keracunan gas di ruang terbatas.

Tips Menerapkan Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, kami mengajak #RekanMitraKerja untuk  menerapkan budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara konsisten, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan :

1. Identifikasi Bahaya dan Risiko Kerja

Selalu cek apa saja hal-hal yang memiliki potensi membahayakan diri ketika hadir di setiap area kerja untuk menentukan langkah pencegahan yang tepat.

2. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang Tepat

Pastikan menggunakan APD sesuai dengan jenis pekerjaan, seperti helm, sarung tangan, pelindung mata, sepatu keselamatan, terutama di area kerja berisiko tinggi, dan minta ke Atasan ketika tidak tersedia di tempat kerja tersebut.

3. Pelatihan dan Edukasi K3 Secara Berkala

Selalu hadir dalam pelatihan rutin Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) termasuk simulasi evakuasi darurat, penggunaan alat pemadam kebakaran, dan prosedur kerja yang aman.

4. Sosialisasi dan Komunikasi tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja  (K3)

Membaca dan mencermati setiap poster, papan informasi atau materi edukatif lainnya di area kerja untuk mengingatkan pentingnya keselamatan kerja.

5. Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan

Bekerja sama dan menceritakan fakta-fakta yang ada di tempat kerja ketika perusahaan melakukan audit internal secara rutin dan menindak lanjuti setiap temuan dengan langkah yang konkret.

Manfaat Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi Perusahaan

Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) tidak hanya melindungi tenaga kerja, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi perusahaan, antara lain:

  • Meningkatkan kenyamanan dan semangat kerja.
  • Mengurangi biaya akibat kecelakaan kerja dan gangguan operasional
  • Mendorong budaya perusahaan yang bertanggung jawab.
  • Meningkatkan reputasi perusahaan di mata publik dan calon tenaga kerja.

 

Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional menjadi pengingat bahwa keselamatan menjadi komitmen bersama seluruh insan kerja. Dengan menerapkan budaya K3 secara konsisten, perusahaan tidak hanya melindungi tenaga kerja dari risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja, tetapi juga membangun lingkungan kerja yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Mari jadikan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai nilai utama dalam setiap aktivitas kerja, hari ini dan seterusnya.

 

Sumber :

[1] https://satudata.kemnaker.go.id/data/kumpulan-data/2447#:~:text=Abstraksi.%20Pada%20periode%20Januari%20s.d.%20Desember%202024,sebanyak%20462.241%20kasus%20dengan%20rincian%20sebanyak%2091%2C65

[2] https://lspkatigapass.co.id/artikel/detail/kasus-kecelakaan-kerja-di-indonesia-meningkat-2025:-apa-penyebab-utamanya#:~:text=Berdasarkan%20data%20terbaru%20yang%20dirilis%20oleh%20Kementerian,April%202025%20tercatat%2047.300%20kasus%20kecelakaan%20kerja

[3] https://news.detik.com/berita/d-7727001/mengapa-peringatan-bulan-k3-nasional-dimulai-setiap-12-januari?

[4] https://kemnaker.go.id/news/detail/kecelakan-kerja-terus-meningkat-kemnaker-ajak-perusahaan-terapkan-smk3-secara-konsisten

23Oct

Menjadi Pendengar yang Dihargai di Tempat Kerja

Komunikasi di tempat kerja bukan hanya menyampaikan instruksi, namun juga tentang  memahami pesan dengan tepat dan memberikan respon yang sesuai. Salah satu kunci penting dalam komunikasi yang efektif ialah kemampuan mendengarkan secara aktif (active listening).  Kemampuan ini bukan sekedar diam ketika atasan/rekan kerja berbicara melainkan hadir sepenuhnya, memperhatikan dengan sunguh-sungguh serta memahami maksud dan emosi di balik setiap kata yang disampaikan.

Mendengarkan tidak selalu mudah, bahkan mendengarkan aktif merupakan ketrampilan yang dapat dilatih oleh tiap individu. Dengan melatih ketrampilan mendengarkan aktif, setiap individu dapat meningkatkan empati, membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi serta menciptakan lingkungan kerja yang saling menghargai.

Berikut beberapa tips praktis yang bisa #RekanMitraKerja terapkan untuk menjadi pendengar yang lebih baik :

  1. Hadir Sepenuhnya

Ketika seseorang berbicara, berikan perhatian penuh tanpa gangguan. Matikan notifikasi ponsel, tutup aplikasi yang tak relevan, dan hindari multitasking. Kehadiran fisik dan mental memberikan sinyal bahwa kamu menghormati pembicara dan serius ingin memahami apa yang disampaikan.

  1. Gunakan Bahasa Tubuh dan Isyarat Non-verbal yang Mendukung

Gerakan kecil seperti mengangguk, senyum, menjaga kontak mata, atau mencondongkan tubuh sedikit ke arah pembicara bisa menunjukkan bahwa Anda terlibat dan mendengarkan. Isyarat non-verbal ini membantu membangun rasa saling percaya dan kenyamanan dalam percakapan.

  1. Hindari Menyela & Tahan Diri Menyiapkan Respons Terlalu Dini

Saat seseorang berbicara, akan ada dorongan untuk segera menjawab atau menyanggah. Biarkan mereka menyampaikan seluruh pikiran dan perasaan terlebih dahulu. Menyela dapat memecah alur pemikiran mereka dan mengurangi pemahaman.

  1. Parafrase & Refleksi untuk Memastikan Pemahaman

Setelah mendengar sebagian atau keseluruhan pembicaraan, ulangi poin penting dengan kata-kata Anda sendiri. Misalnya: “Jadi, maksud Bapak/Ibu kita perlu menyesuaikan timeline presentasi, ya?” Teknik ini menunjukkan bahwa Anda berusaha memahami dan memberikan kesempatan klarifikasi.

  1. Ajukan Pertanyaan Terbuka dan Klarifikasi Bila Diperlukan

Jika ada bagian yang kurang jelas, tanyakan untuk menggali lebih dalam. Pertanyaan seperti “Bolehkah Bapak/Ibu menjelaskan maksud bagian ini lebih lanjut?” atau “Apa yang sebaiknya menjadi prioritas di sana?” membantu Anda memahami detail yang mungkin tersembunyi.

  1. Dengarkan dengan Empati dan Tanpa Menghakimi

Cobalah menempatkan diri Anda di posisi mereka agar bisa memahami konteks dan perasaan mereka, tanpa buru-buru menilai. Dengan menunjukkan empati dan memvalidasi perasaan pembicara, Anda bisa terhubung dengan mereka dan membangun kepercayaan. Misalnya menggunakan afirmasi verbal pendek seperti “saya mengerti” , “ saya setuju”

  1. Evaluasi & Latih Diri secara Berkala

Mendengarkan adalah keterampilan yang bisa diasah lewat refleksi dan praktik. Setelah percakapan, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar memahami apa yang disampaikan?” atau “Bagian mana yang masih samar bagi saya?” Dengan latihan konsisten, Anda akan menjadi pendengar yang lebih tajam.

Dalam lingkungan kerja yang profesional, mendengarkan secara aktif bukanlah kemampuan sederhana melainkan ketrampilan penting yang mendukung kolaborasi, mengurangi kesalahpahaman komunikasi serta memperkuat hubungan kerja.

Dengan menerapkan perhatian penuh, menjaga bahasa tubuh yang positif, serta menumbuhkan empati dalam setiap percakapan, #RekanMitraKerja akan lebih mampu memahami apa yang dimaksud olah atasan atau rekan kerja dan merespon dengan tepat.

 

Referensi :

https://health.clevelandclinic.org/active-listening

https://www.ccl.org/articles/leading-effectively-articles/coaching-others-use-active-listening-skills

https://www.indeed.com/career-advice/career-development/active-listening-skills

22Jul

Mencari Makna dalam Bekerja

Dalam rutinitas kerja sehari-hari, kita sering terjebak pada target dan tenggat waktu. Padahal, ada satu hal penting yang kadang terlupakan: makna dari pekerjaan itu sendiri. Bekerja bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang bagaimana kita merasa berguna, dihargai, dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Riset menunjukkan bahwa menemukan makna dalam pekerjaan berdampak besar pada motivasi, kebahagiaan, dan kesehatan mental individu. Studi oleh McKinsey & Company (2021) menemukan bahwa 70% pegawai merasa pekerjaan mereka sangat menentukan makna hidup. Tetapi banyak juga yang tetap merasa kosong walau memiliki jabatan tinggi atau gaji yang  besar—karena pekerjaan yang mereka lakukan tidak lagi selaras dengan nilai dan tujuan hidup mereka. Dalam dunia kerja modern, fenomena ini dikenal sebagai meaning deficit—ketika pekerjaan kehilangan arti personal dan emosional bagi individu. Padahal, makna bisa hadir dalam hal-hal sederhana: menyelesaikan tugas dengan sepenuh hati, membantu rekan kerja, atau merasa bahwa apa yang kita lakukan memberi dampak positif, sekecil apa pun itu.

Makna dalam bekerja juga menjadi hal yang penting bagi perusahaan. Pegawai yang merasa pekerjaannya bermakna cenderung lebih produktif, loyal dan  lebih tahan menghadapi tekanan dengan lebih baik. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan kerja yang bermakna—di mana setiap orang merasa dihargai dan dilibatkan—bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab pemimpin dan manajer.

Sudahkan #RekanMitraKerja menemukan makna dalam pekerjaanmu? Jika belum, kamu bisa mencoba beberapa tips berikut untuk menemukannya:

  • Kenali Nilai Pribadimu

Apa  yang penting bagimu ? Misalnya : integritas, kontribusi sosial atau belajar hal baru. Saat kerja sejalan dengan nilai pribadi, rasanya jadi lebih “klik”.

  • Fokus pada Dampak

Siapa yang terbantu dari pekerjaanmu? Kadang kita lupa, tapi kontribusimu itu nyata dirasakan oleh orang lain.

  • Jalin Hubungan yang Baik

Bangun koneksi yang positif dengan rekan kerja untuk menumbuhkan rasa memiliki, missal dengan ngobrol santai atau ngopi bareng.

  • Aktif berkontribusi

Jangan ragu memberi ide atau masukan. Terlibat dalam pengambilan keputusan/perbaikan proses akan membuatmu dihargai dan diandalkan oleh tim.

  • Refleksi, Rutin

 Luangkanlah waktu untuk mengevaluasi perjalanan karier Anda dan bagaimana pekerjaanmu mendukung tujuan hidup.

Menemukan makna dalam bekerja bukan berarti harus mengubah karier atau mencari “pekerjaan yang lebih besar” Kadang, makna justru muncul dari cara kita memandang dan menjalani pekerjaan yang kita miliki saat ini. Dengan kesadaran, refleksi dan koneksi antar manusia, kita bisa membangun pengalaman kerja yang tidak hanya produktif tapi juga memuaskan secara pribadi.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/code-conscience/202507/the-meaning-deficit-at-work

https://www.innovativehumancapital.com/article/the-meaning-of-work-why-meaning-may-be-more-important-than-purpose

https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-meaningful-life/201804/discovering-meaning-through-the-lens-work

https://www.psychologytoday.com/us/blog/managing-with-meaning/202202/meaningful-work-is-more-than-mindful

 

14Apr

Pegawai Hebat Bukan yang Tak Pernah Salah, Tapi yang Cepat Belajar

Dalam dunia kerja, melakukan kesalahan merupakan hal yang umum. Bahkan pegawai teladan pun tidak luput dari kekeliruan. Namun, yang membedakan mereka dari yang lain ialah pada cara merespons kesalahan tersebut. Yuk, mari kita bahas lebih dalam mengenai pentingnya pemikiran ini dan bagaimana #RekanMitraKerja dapat menerapkannya di tempat kerja.

Kesalahan Adalah Bagian dari Proses Pembelajaran

Tidak ada individu yang menjadi ahli sejak hari pertama mereka memulai perjalanan karir, terutama dalam posisi yang memerlukan adaptasi cepat seperti pengemudi, staf gudang, administrator, hingga kurir. Kesalahan kecil dapat terjadi di awal langkah mereka.

Sebagai contoh, seorang administrator baru mungkin melakukan kesalahan saat melakukan input data ke dalam sistem perusahaan yang belum dikenalnya. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya  pengalaman, ia akan belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi lebih terampil.

Ketika melakukan kelalaian, tiga langkah penting yang perlu dilakukan #RekanMitraKerja ialah  :

  • Mengakui kesalahan dengan sikap profesional
  • Mengevaluasi penyebabnya
  • Memperbaiki cara kerja agar tidak terulang Kembali

Memiliki  Growth Mindset = Kunci Kesuksesan

Individu yang meraih kesuksesan bukanlah mereka yang selalu benar, melainkan yang memiliki growth mindset—yakni pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dapat diasah seiring waktu.

Ciri-ciri individu dengan pola pikir growth mindset meliputi :

  1. Tidak malu mengakui kesalahan
  2. Terbuka terhadap kritik
  3. Inisiatif untuk belajar hal baru
  4. Tidak menyalahkan orang lain
  5. Fokus pada solusi, bukan masalahnya

Belajar Cepat = Naik Level Lebih Cepat

Selain memiliki  pola pikir growth mindset, perusahaan juga menghargai pegawai yang menunjukkan :

  • Cepat belajar dari pengalaman
  • Menjadi semakin rapi dan teliti seiring waktu
  • Dapat dipercaya untuk menangani tanggung jawab yang lebih besar

Jadi, apabila #RekanMitraKerja pernah ditegur atau dikritik karena melakukan kesalahan, janganlah berkecil hati. Justru itu bisa jadi titik awal untuk meningkatkan kemampuanmu.

Jadilah pegawai yang cepat bangkit, selalu belajar, dan siap menghadapi tantangan baru setiap harinya. Karena pada dasarnya, perusahaan membutuhkan pegawai yang terus berkembang, bukan individu yang berpura-pura sempurna.

 

Referensi :

https://www.forbes.com/sites/ashleystahl/2020/10/19/why-a-growth-mindset-is-essential-for-career-success

https://hbr.org/2011/04/strategies-for-learning-from-failure

https://learning.linkedin.com/research/workplace-learning-report

 

21Jan

Refleksi dan Perencanaan : Apa yang Bisa Dipelajari dari Tahun Lalu?

Saat memasuki tahun baru, kita sebagai individu akan memulainya dengan harapan dan tujuan baru. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan diri.

Dengan mengevaluasi pencapaian dan tantangan dari tahun sebelumnya, kita dapat membuat rencana pengembangan diri yang lebih efektif.  Yuk, kita coba lakukan langkah-langkah berikut :

    1. Evaluasi Pencapaian

        1. Mulailah dengan mengidentifikasi apa saja yang telah Anda capai. Tanyakan pada diri sendiri:

            • Apa saja hasil yang saya banggakan tahun lalu?

          • Apa proyek atau tugas yang berhasil diselesaikan dengan baik?
            Tuliskan daftar pencapaian ini, termasuk hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian. Hal ini akan membantu Anda melihat betapa banyak yang sudah diraih.

      Selain itu, analisis faktor-faktor yang mendukung keberhasilan tersebut. Apakah itu karena kerja keras, kolaborasi tim, atau penggunaan alat tertentu? Dengan memahami faktor pendukung, Anda dapat mengulang strategi yang sama di masa depan.
      1. Analisis Tantangan dan Kesalahan
        Setelah mengevaluasi pencapaian, beralihlah ke tantangan dan kesalahan. Refleksikan:
        • Apa saja hambatan terbesar yang saya hadapi tahun lalu?
        • Keputusan apa yang saya sesali?
          Identifikasi pelajaran berharga dari setiap tantangan dan kesalahan. Misalnya, jika Anda gagal mencapai target karena kurangnya manajemen waktu, catat hal tersebut sebagai area yang perlu diperbaiki.
      2. Refleksi Personal dan Profesional
        Jangan hanya fokus pada aspek profesional, tetapi juga pertimbangkan keseimbangan hidup secara keseluruhan. Tanyakan pada diri #RekanMitraKerja :
        • Apakah saya merasa bahagia dan puas secara pribadi?
        • Apakah saya mengalami perkembangan dalam karier atau keterampilan saya?
          Refleksi ini akan membantu Anda memahami apakah ada aspek kehidupan yang perlu lebih diperhatikan tahun ini.
      3. Gunakan Teknik Jurnal Refleksi
        Tuliskan pengalaman dan wawasan Anda selama setahun terakhir dalam jurnal. Beberapa pertanyaan panduan yang dapat membantu:
        • Apa hal baru yang saya ketahui selama setahun lalu ? 
        • Apa yang saya pelajari tentang diri saya sendiri? Menulis refleksi akan membantu Anda melihat pola yang mungkin tidak terlihat sebelumnya.

Setelah melakukan 4 tahapan refleksi di atas, kita dapat melanjutkan ke pengembangan diri dan tujuan di tahun baru ini, dengan cara :

  1. Tetapkan Tujuan yang SMART
    Untuk memastikan tujuan Anda dapat dicapai, gunakan metode SMART:
    • Spesifik: Definisikan tujuan secara jelas. Misalnya, “meningkatkan kemampuan komunikasi”.
    • Measurable (Terukur): Tetapkan indikator keberhasilan, seperti “mengikuti tiga pelatihan public speaking”.
    • Achievable (Dapat Dicapai): Pastikan tujuan realistis dengan sumber daya yang tersedia.
    • Relevant (Relevan): Sesuaikan dengan prioritas karier atau kehidupan pribadi Anda.
    • Time-Bound (Berbatas Waktu): Tentukan tenggat waktu, misalnya “selesai dalam enam bulan”.
  1. Buat Rencana Aksi
    Membagi tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan setiap hari atau minggu. Misalnya, jika tujuan kamu ialah meningkatkan kesehatan, langkah kecilnya bisa berupa berolahraga 30 menit setiap pagi.
  2. Kembangkan Kebiasaan Positif
    Kebiasaan kecil dapat membawa perubahan besar. Identifikasi kebiasaan yang akan mendukung pencapaian tujuan kamu, seperti membaca buku pengembangan diri selama 15 menit setiap hari atau mengikuti webinar bulanan.
  3. Cari Sumber Belajar dan Mentor
    Jangan ragu untuk mencari kursus online, buku, atau pelatihan yang relevan dengan tujuan kamu. Jika memungkinkan, temukan mentor yang dapat memberikan bimbingan dan masukan berharga.
  4. Lakukan Review Berkala
    Tetapkan waktu untuk mengevaluasi kemajuan kamu, misalnya setiap akhir bulan. Hal ini membantu Anda tetap pada jalur dan membuat penyesuaian jika diperlukan.
  5. Berikan Penghargaan diri sendiri
    Jangan lupa untuk menghargai setiap langkah kecil yang berhasil dicapai. Merayakan kemajuan akan memotivasi Anda untuk terus maju hingga mencapai tujuan besar.

Refleksi produktif merupakan kunci untuk memahami apa yang telah kamu capai dan pelajari dari tantangan di masa lalu. Dengan melakukan evaluasi yang mendalam dan menyusun rencana pengembangan diri berdasarkan tujuan SMART, kamu dapat memulai tahun baru dengan lebih percaya diri dan terarah.

Selamat menyambut tahun baru dengan semangat baru!

 

Sumber :

https://www.kompasiana.com/muhammaddahron2351/674d1070c925c42ee65a14a2/refleksi-diri-dan-resolusi-langkah-awal-untuk-tahun-2025-yang-lebih-baik?page=2&page_images=1

 

21Nov

Gen Z Sering Dipecat! Apakah Media Sosial Jadi Penyebabnya?

Pemberitaan mengenai pemecatan  Gen Z di sejumlah perusahaan Amerika Serikat belakangan ini menjadi sorotan. Menurut  laporan dari Forbes and inc, sekitar 60 % perusahaan menyatakan telah memecat pegawai baru dari generasi ini.

Banyak perusahaan mengungkapkan bahwa pemecatan ini disebabkan oleh kurangnya motivasi, inisiatif,  profesionalisme serta ketrampilan berorganisasi dan komunikasi yang dinilai masih rendah. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh pola tumbuh kembang Gen Z di masa pandemi yang membuat mereka lebih akrab dengan komunikasi berbasis teknologi dibandingkan interaksi tatap muka. Kebiasaan menggunakan pesan singkat yang dianggap kurang formal oleh generasi sebelumnya juga seringkali memicu kesalahpahaman di tempat kerja.

Fenomena inilah yang menjadi tantangan bagi perusahan di Amerika Serikat. Pegawai Gen Z yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan seringkali kurang memiliki pengalaman dan kemampuan interpersonal yang memadai. Menurut pernyataan dari Holly Schroth (dosen senior Universitas California) hal ini sebagian besar dipengaruhi oleh prioritas mereka selama kuliah yang cenderung lebih fokus pada kegiatan ekstrakurikuler. Meskipun kegiatan tersebut penting untuk mengembangkan soft skill, namun kurang memberikan pengalaman praktis yang langsung dapat diterapkan di dunia kerja.

Selain itu, tekanan dari media sosial turut mempengaruhi rasa percaya diri dan inisiatif para Gen Z. Ekspektasi tinggi yang tercipta melalui media sosial dan harapan masyarakat seringkali meningkatkan kecemasan, sementara kebiasaan menggunakan media sosla secara kurang bijak dapat berdampak pada perfoma mereka di dunia kerja.

Perusahaan dapat berperan besar dengan mengambil pendekatan yang terarah dan kolaboratif. Misalnya dengan menyediakan lingkungan yang mendukung, sehingga pegawai  merasa aman untuk berkontribusi tanpa khawatir terhadap penilaian negatif. Selain itu perusahaan juga dapat memberikan pelatihan kepada pegawai baru yang berfokus pada etika kerja, ketrampilan interpersonal serta penyesuaian terhadap budaya perusahaan.

Program mentoring juga dapat menjadi langkah strategis yang melibatkan rekan kerja dan manager sebagai mentor. Melalui bimbingan ini, pegawai baru Gen Z dapat lebih mudah beradaptasi, menghadapi tantangan di tempat kerja dan menerima umpan balik secara konstruktif untuk pengembangan diri mereka.

Kolaborasi antara perusahaan dan institusi Pendidikan seperti program magang selama semester akhir, dapat mempersiapkan Gen Z untuk bekerja dengan kompeten, sekaligus mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri, sehingga mereka dapat lebih mudah beradaptasi di lingkungan kerja.

Selain perusahaan dan institusi pendidikan,  Gen Z juga diharapkan dapat beradaptasi serta bekerjasama dengan generasi sebelumnya di lingkungan kerja. Untuk itu, profesionalisme juga harus ditampilkan dengan cara berikut  :

  1. Tepat waktu dan bisa diandalkan
  2. Menunjukkan sikap positif dan inisiatif
  3. Menerima saran dan kritik
  4. Menggunakan media sosial dengan pantas
  5. Menghindari perbincangan politik

Dengan upaya bersama dari perusahaan, institusi pendidkan dan pegawai Gen Z sendiri, tantangan ini akan dapat diatasi. Kolaborasi lintas generasi dan lingkungan kerja yang inklusif akan menciptakan sinergi yang mendukung produktivitas, inovasi serta mengurangi risiko pemecatan.

 

Referensi :

https://www.detik.com/jabar/bisnis/d-7608399/banyak-gen-z-dipecat-dari-perusahaan-ternyata-ini-penyebabnya

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/1763657-kenapa-generasi-z-sering-dipecat-psikolog-ungkap-3-alasan-utama-amp-solusinya

https://www.kompasiana.com/dicky.saputra/6732dd17ed641514987549a2/karyawan-gen-z-cepat-resign-apakah-ini-masalah-karakter-atau-lingkungan-kerja

08Nov

Semangat Sumpah Pemuda Memotivasi Gen Z di Dunia Kerja

#RekanMitraKerja pasti mengetahui bahwa setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada hari bersejarah ini, pemuda dari berbagai penjuru nusantara berikrar untuk satu tanah air, satu bangsa, dan satu Bahasa Indonesia. Semangat yang diwariskan dalam Sumpah Pemuda tentunya masih relevan untuk memotivasi para generasi muda saat ini, termasuk Generasi Z, dalam berkarier di dunia kerja.

Saat ini, 61% dari total pegawai di Mitra Kerja merupakan bagian dari Generasi Z. Data ini menunjukkan bahwa Gen Z telah mendominasi posisi pekerjaan yang tersedia di PT. Mitra Kerja Utama sebagai Job Holder.

Gen Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi dan kreatif, karena mereka lahir di era digitalisasi dan pesatnya perkembangan informasi. Kondisi ini membawa tantangan baru bagi Gen Z di dunia kerja yang terus berkembang dan berubah. Oleh karena itu, semangat persatuan dan perjuangan yang pernah ditunjukkan oleh para pemuda pada tahun 1928 dapat menjadi inspirasi bagi Gen Z untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam menghadapinya.

Lalu bagaimana semangat Sumpah Pemuda mampu memotivasi Gen Z?

Berikut ini adalah nilai – nilai Sumpah Pemuda yang dapat mendorong Gen Z berkarir di dunia kerja:

  1. Persatuan dan Kolaborasi: Sumpah Pemuda menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman. Di tempat kerja, Gen Z dapat mengaplikasikan nilai ini dengan berkolaborasi lintas tim dan departemen untuk mencapai tujuan bersama.
  2. Inovasi dan Kreativitas: Seperti para pemuda Generasi X dan milenial yang berani bermimpi besar untuk perubahan yang lebih baik, Gen Z juga harus memanfaatkan keahlian teknologi untuk menciptakan inovasi yang memajukan perusahaan dan industrinya.
  3. Kepedulian Sosial: semangat Sumpah Pemuda juga mendorong Gen Z untuk memperhatikan isu-isu sosial dan lingkungan. Hal ini dapat diwujudkan dengan berpartisipasi dalam proyek-proyek sosial perusahaan atau memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.
  4. Ketahanan dan Keuletan: Perjuangan pemuda pada masa lalu mengajarkan Gen Z untuk tidak mudah menyerah. Dalam menghadapi kegagalan dan tantangan di tempat kerja, ketahanan adalah kunci untuk bangkit kembali dan mencoba hal baru.
Implementasi Semangat Sumpah Pemuda

Untuk mengimplementasikan semangat Sumpah Pemuda #RekanMitrakerja dapat melakukan hal-hal berikut ini:

  • Menyelesaikan masalah yang muncul akibat perbedaan pendapat atau kompetisi kerja dengan tetap menunjung semangat persatuan dan kesatuan.
  • Membangun jejaring profesional yang kuat dengan berbagai pihak dari latar belakang yang berbeda.
  • Memanfaatkan teknologi untuk mencari peluang baru dalam berkarier.
  • Terus belajar dan meningkatkan keterampilan sesuai perkembangan zaman.
  • Aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang memberikan dampak positif bagi komunitas dan lingkungan.

Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, #RekanMitraKerja, khususnya Gen Z,  diharapkan tidak hanya akan menjadi tenaga kerja yang berdedikasi dan inovatif tetapi juga menjadi pelopor perubahan untuk masa depan yang lebih baik.